ads

emel kepada (pendapat,komen, artikel)

zainal55@yahoo.com

Monday, September 6, 2010

Pidato Kenegaraan Presiden Obama Mengenai Berakhirnya Operasi Tempur Di Irak



Selamat Malam. Malam ini saya ingin berbicara dengan Anda mengenai berakhirnya misi pertempuran kita di Irak, berbagai tantangan keamanan yang kita hadapi, dan perlunya untuk membangun kembali bangsa kita di dalam negeri.

Saya tahu, momen bersejarah ini jatuh bersamaan dengan masa yang tidak menentu bagi banyak rakyat Amerika. Kita telah menjalani perang yang berlangsung hampir satu dasawarsa. Kita telah mengalami resesi yang panjang dan menyakitkan. Dan terkadang ditengah badai ini, masa depan yang kita upayakan bangun demi untuk negeri ini – sebuah masa depan yang penuh dengan kedamaian dan kemakmuran abadi – sepertinya berada jauh dari jangkauan kita.

Tetapi tonggak bersejarah ini semestinya menjadi peringatan bagi seluruh rakyat Amerika bahwa masa depan berada di tangan kita apabila kita bergerak maju dengan penuh percaya diri dan komitmen tinggi. Ini juga berfungsi sebagai pesan kepada dunia bahwa Amerika Serikat berniat untuk meneruskan dan memperkuat kepemimpinannya di awal abad ini.

Dari meja ini, tujuh setengah tahun lalu, Presiden Bush mengumumkan dimulainya operasi militer di Irak. Banyak sekali perubahan yang terjadi sejak saat itu. Pertempuran untuk melucuti senjata negara menjadi pertarungan melawan pemberontakan. Pertempuran terorisme dan sektarian telah mengancam timbulnya perpecahan di Iraq. Ribuan rakyat Amerika mempertaruhkan nyawa mereka; puluhan ribu terluka. Hubungan kita ke luar negeri menjadi tegang. Persatuan dalam negeri kita diuji.

Ini semua merupakan masa-masa paling sulit yang kita hadapi dalam salah satu sejarah perang Amerika yang paling panjang. Namun tetap ada satu hal yang tidak berubah ditengah gelombang perubahan. Di setiap perpindahan, para tentara pria dan wanita Amerika telah mengabdi dengan penuh keberanian dan keteguhan hati. Sebagai, panglima utama, saya sangat bangga atas pengabdian mereka. Dan seperti rakyat Amerika lainnya, saya bangga dengan pengorbanan mereka, serta pengorbanan keluarga mereka.

Warga Amerika yang berdinas di Irak telah menyelesaikan setiap misi yang diembannya. Mereka mengalahkan rejim pemerintahan yang meneror rakyatnya. Bersama dengan rakyat Irak dan mitra koalisi yang memberi pengorbanan besar, tentara kita bertempur di setiap sudut untuk membantu rakyat Irak untuk meraih kesempatan hidup yang lebih baik di masa depan. Mereka mengubah taktik guna melindungi rakyat Irak, melatih Satuan Keamanan Irak, dan menumpas pemimpin teroris. Karena pasukan dan pekerja sipil kita —dan karena keuletan rakyat Irak— Irak mempunyai kesempatan untuk merengkuh nasib barunya, meskipun banyak tantangan masih menghadang.


Maka malam ini, saya mengumumkan bahwa misi pertempuran Amerika di Irak telah berakhir. Operasi Pembebasan Irak telah usai, dan rakyat Irak bertanggung jawab atas keamanan negeri mereka sendiri.

Ini merupakan janji yang saya katakan kepada rakyat Amerika pada saat mencalonkan diri untuk jabatan ini. Februari lalu, saya mengumumkan rencana untuk membawa satuan tempur kita keluar dari Irak, sambil melipatkan upaya-upaya kita untuk memperkuat Satuan Keamanan Irak serta mendukung pemerintahan dan rakyatnya.

Itulah yang telah kami lakukan. Kami telah menarik hampir 100 ribu tentara dari Irak. Kami telah menutup dan mengalihkan ratusan basis pertahanan kepada rakyat Irak. Dan kami juga telah memindahkan jutaan peralatan keluar dari Irak.

Ini melengkapi proses peralihan kepada pihak Irak demi keamanan mereka sendiri. Pasukan AS telah ditarik dari kota-kota di Irak pada musim panas lalu, dan pasukan Irak telah mulai mengambil kepemimpinan dengan ketrampilan dan komitmen bagi para warganya. Meskipun Irak terus digempur serangan teroris, gangguan keamanan terus mengalami rekor penurunan sejak perang dimulai. Dan pasukan Irak telah mengambil alih pertempuran melawan Al Qaida sehingga menghilangkan pengaruhnya dalam operasi-operasi yang dipimpin oleh Irak.

Tahun ini juga ditandai dengan pelaksanaan pemilu Irak yang kredibel dan telah menarik banyak pemilih dalam jumlah yang besar. Sebuah pemerintahan sementara telah terbentuk sementara pihak Irak membentuk sebuah pemerintahan berdasarkan hasil pemilu tersebut. Malam ini, saya mengajak para pemimpin Irak untuk bergerak maju dengan dorongan urgensi untuk membentuk sebuah pemerintahan inklusif yang adil, terwakilkan, dan akuntabel bagi rakyat Irak. Dan ketika pemerintahan tersebut terbentuk, tidak akan ada lagi keraguan bahwa rakyat Irak akan memiliki mitra yang kuat di Amerika Serikat. Misi pertempuran kami berakhir, namun tidak demikian dengan komitmen kami terhadap masa depan Irak.

Ke depan, sebuah pasukan peralihan tentara AS akan tetap berada di Irak dengan misi yang bervariasi: memberikan penyuluhan dan membantu Pasukan Keamanan Irak, mendukung pasukan Irak dalam misi pemberantasan terorisme yang telah ditargetkan, dan melindungi masyarakat sipil. Sesuai dengan kesepakatan dengan Pemerintah Irak, seluruh pasukan AS akan meninggalkan Irak pada akhir tahun depan. Sementara jumlah personel militer kami dikurangi, para personel sipil kami – diplomat, pekerja bantuan, dan penasihat – mulai memimpin untuk membantu Irak sambil memperkuat pemerintahannya, menyelesaikan pertikaian politik, menampung mereka yang terlantar akibat perang, dan membangun hubungan dengan kawasannya dan dunia. Itulah pesan yang dibawa oleh Wakil Presiden Biden kepada rakyat Irak dalam kunjungannya di sana hari ini.

Pendekatan yang baru ini mencerminkan kemitraan jangka panjang kita dengan Irak – sebuah kemitraan yang berdasarkan kepentingan bersama dan saling menghormati. Tentu saja, kekerasan tidak akan berakhir dengan misi pertempuran kita. Ekstremis akan terus meledakkan bom, menyerang masyarakat sipil Irak, dan berupaya menyebarkan perselisihan sektarian. Namun pada akhirnya, para teroris ini akan gagal mencapai tujuan mereka. Masyarakat Irak adalah masyarakat yang membanggakan. Mereka menolak perang sektarian, dan mereka ingin menghentikan kerusakan yang tidak pernah akhir. Pada akhirnya, mereka paham hanya rakyat Irak lah yang dapat menyelesaikan perbedaan antarmereka dan mengamankan jalan-jalan di wilayah mereka. Hanya rakyat Irak lah yang dapat membangun demokrasi di dalam batas-batas wilayah mereka. Apa yang Amerika dapat lakukan dan akan lakukan adalah memberikan dukungan bagi rakyat Irak baik sebagai sahabat maupun sebagai mitra.

Mengakhiri perang ini bukan hanya menjadi kepentingan Irak, tapi juga menjadi kepentingan kita. Amerika Serikat telah membayar mahal untuk meletakkan masa depan Irak di tangan rakyatnya. Kita telah mengerahkan para pria dan wanita muda kita untuk memberikan pengorbanan yang besar di Irak dan menghabiskan sumber daya yang amat banyak di saat anggaran di dalam negeri harus dihemat. Kita telah bertahan karena keyakinan yang kita miliki bersama rakyat Irak; sebuah keyakinan bahwa bersama dengan debu peperangan, akan muncul sebuah awal baru di dalam buaian peradaban ini. Melalui lembaran yang luar biasa ini dalam sejarah Amerika Serikat dan Irak, kita memenuhi tanggung jawab kita. Kini, saatnya untuk membuka lembaran baru.

Selagi kita melakukan ini, saya menyadari bahwa perang Irak telah menjadi isu yang diperdebatkan di dalam negeri. Di sini juga sudah saatnya untuk membuka halaman baru. Sore ini, saya berbicara dengan mantan Presiden George W. Bush. Semua orang tahu bahwa ia dan saya berselisih paham tentang perang ini sejak awal. Namun tak seorang pun dapat meragukan dukungan Presiden Bush bagi pasukan kita, atau cintanya pada negara dan komitmennya pada keamanan kita. Seperti yang telah saya sampaikan, ada patriot yang mendukung perang ini, dan ada pula patriot yang menentangnya. Dan kita semua bersatu dalam memberikan penghargaan untuk para prajurit kita baik laki-laki maupun perempuan, serta harapan kita untuk masa depan Irak.

Kebesaran demokrasi kita didasarkan pada kemampuan kita untuk bergerak melampaui segala perbedaan serta belajar dari pengalaman kita saat menghadapi banyak tantangan di depan. Dan tidak ada tantangan yang lebih utama bagi keamanan kita daripada perjuangan melawan Al Qaida.

Warga Amerika dari berbagai spektrum politik mendukung penggunaan kekerasan terhadap mereka yang menyerang kita pada 11 September. Sekarang, pertempuran di Afghanistan memasuki tahun ke-10, dan dapat dimengerti jika ada orang-orang yang menanyakan pertanyaan sulit tentang misi kita di sana. Tapi kita tidak boleh kehilangan fokus tentang apa yang dipertaruhkan. Saat kita berbicara, Al Qaida terus menyusun rencana melawan kita, dan kepemimpinan kelompok tersebut tetap terpusat di daerah perbatasan Afghanistan dan Pakistan. Kita akan merusak, membongkar dan mengalahkan Al Qaida, dan mencegah Afghanistan digunakan kembali sebagai basis teroris. Dan berkat penarikan pasukan kita di Irak, kita sekarang dapat menggunakan sumber daya yang diperlukan untuk melakukan serangan. Bahkan, selama 19 bulan terakhir, hampir selusin pemimpin Al Qaida – dan ratusan sekutu ekstremis Al Qaida – terbunuh atau ditangkap di seluruh dunia.

Di Afghanistan, saya telah memerintahkan pengerahan pasukan tambahan – di bawah komando Jenderal David Petraeus – yang berjuang untuk merusak momentum Taliban.

Seperti halnya di Irak, pasukan ini akan ditempatkan untuk waktu yang sangat terbatas guna menyediakan ruang bagi rakyat Afghanistan untuk membangun kapasitas dan mengamankan masa depan mereka sendiri. Namun, seperti yang terjadi di Irak, kita tidak bisa melakukan untuk rakyat Afghanistan apa yang mereka akhirnya harus lakukan sendiri. Itu sebabnya kita melatih Pasukan Keamanan Afghanistan dan mendukung resolusi politik untuk masalah-masalah Afghanistan. Dan Agustus mendatang, kita akan memulai sebuah transisi kepada pihak Afghanistan. Laju pengurangan pasukan kita akan ditentukan oleh kondisi di lapangan, dan dukungan kita untuk Afghanistan akan terus berlanjut. Tapi jangan membuat kesalahan: Transisi ini akan dimulai – karena perang terbuka bukanlah kepentingan kita maupun rakyat Afghanistan.

Bahkan, salah satu pelajaran yang dapat dipetik dari usaha kita di Irak adalah pengaruh Amerika di dunia tidak bisa didasarkan pada kekuatan militer saja. Kita harus dapat menggunakan semua kekuatan yang kita miliki – termasuk kekuatan diplomasi; kekuatan ekonomi; dan kekuatan AS sebagai contoh bagi negara-negara di dunia – demi melindungi kepentingan-kepentingan kita dan demi mendukung para sekutu kita. Selain itu, kita harus mengedepankan sebuah visi masa depan yang tidak hanya didasarkan pada ketakutan-ketakutan kita, tetapi juga pada harapan-harapan kita – sebuah visi yang tidak saja mengenali bahaya-bahaya nyata yang ada di dunia, namun juga potensi-potensi tak terbatas yang ada saat ini.

Dewasa ini, perdamaian untuk musuh-musuh lama dan kemunculan demokrasi memberikan kesempatan untuk membentuk kemitraan baru. Pasar baru untuk barang-barang kita membentang dari benua Asia ke Amerika. Sebuah inisiatif baru untuk perdamaian di Timur Tengah akan diluncurkan besok di tempat ini. Miliaran kaum muda berjuang untuk melepaskan diri dari ikatan kemiskinan dan konflik. Sebagai pemimpin dunia bebas, Amerika tidak saja akan mengalahkan pihak yang mendukung kekerasan dan kehancuran di medan perang, tetapi juga akan memimpin pihak-pihak yang ingin berkerjasama untuk memperjuangkan kebebasan dan kesempatan bagi semua orang.

Saat ini, usaha tersebut harus dimulai di negara kita sendiri. Sepanjang sejarah kita, Amerika selalu siap untuk menanggung beban untuk memajukan kebebasan dan penghargaan atas martabat manusia di seluruh dunia, karena kita sadar bahwa hal tersebut berhubungan dengan kebebasan dan keamanan di negara kita. Namun kita juga sadar bahwa kekuatan negara kita serta pengaruhnya di dunia sangat tergantung pada kemakmuran kita di tanah air. Dan pondasi dasar dari kemakmuran itu adalah warga ekonomi kelas menengah yang terus berkembang.


Sayangnya pada dekade terakhir ini kita tidak melakukan apa yang dibutuhkan demi melindungi pondasi dari kemakmuran kita tersebut. Kita menghabiskan triliunan dollar untuk perang, bahkan seringkali dengan dana pinjaman dari luar negeri. Dan hal ini merugikan investasi rakyat kita sendiri serta menyebabkan terjadinya defisit yang melampaui rekor sebelumnya. Sudah terlalu lama kita menghindari untuk membuat keputusan-keputusan sulit untuk berbagai hal dari industri manufaktur kita hingga kebijakan energi kita hingga reformasi pendidikan. Sebagai hasilnya, terlalu banyak dari keluarga-keluarga kelas menengah kita yang terpaksa untuk bekerja dengan lebih keras demi upah yang lebih kecil, sementara kemampuan bersaing jangka panjang negara kita menjadi semakin terancam.

Untuk itu, saat dimana kita sedang mulai mengakhiri perang di Iraq, kita harus memulai menyelesaikan berbagai tantangan di dalam negeri dengan energi, keteguhan ,dan semangat persatuan yang sama dengan yang dimiliki oleh para pria dan wanita berseragam dalam menjalankan tugas-tugas mereka di luar negeri. Mereka telah menghadapi berbagai ujian. Sekarang, giliran kita untuk diuji. Sekarang, kita memiliki kewajiban untuk menghargai pengorbanan mereka dengan bersatu dan berkerjasama demi mencapai impian yang telah diperjuangkan oleh begitu banyak generasi sebelum kita – sebuah impian dimana kehidupan yang lebih baik menanti bagi semua orang yang mau berkerja demi meraihnya.

Tugas kita yang paling mendesak saat ini adalah memperbaiki perekonomian kita serta kembali memperkerjakan jutaan warga Amerika yang telah kehilangan mata pencahariannya. Demi memperkuat golongan kelas menengah kita, kita semua harus mampu memberikan anak-anak kita pendidikan yang layak dan keahlian untuk para pekerja kita sehingga membuat mereka dapat bersaing di kancah perekonomian global. Kita harus memacu kembali industri-industri yang dapat membuka lapangan perkerjaan luas dan menghentikan ketergantungan kita pada minyak asing. Kita harus dapat meluncurkan inovasi baru sehingga dapat memproduksi berbagai barang baru dari pabrik-pabrik kita, selain juga mengembangkan ide-ide yang muncul dari para wirausahawan kita. Semua ini bukan hal yang mudah. Tetapi untuk hari-hari berikutnya, hal ini harus menjadi misi utama kita sebagai sebuah bangsa dan tanggungjawab utama saya sebagai seorang presiden.

Bagian dari tanggung jawab tersebut adalah memastikan komitmen kita untuk menghormati mereka yang telah berbakti pada negara dengan keberanian yang luar biasa. Selama masa jabatan kepresidenan saya, kita akan selalu memelihara kekuatan angkatan perang yang sangat baik yang pernah dikenal oleh dunia, dan kita akan melakukan apapun untuk para veteran seperti mereka telah melayani kita. Ini adalah janji suci. Untuk itu, kita telah membuat kenaikkan terbesar untuk dana bagi para veteran dalam beberapa dekade terakhir. Kita telah melakuan perawatan terhadap para korban akibat perang sekarang ini --ganguan stress pasca trauma dan cedar otak traumatic -- selain terus memberikan jaminan perawatan kesehatan untuk para veteran. Kita juga membiayai RUU keprajuritan Pasca 11 September yang akan membantu veteran dan keluarganya untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi. Untuk seorang tentara, RUU semacam in telah menolong mereka yang ikut bertempur selama Perang Dunia ke-2, termasuk kakek saya, untuk menjadi tulang punggung kelas menegah, sehingga sekarang ini, personil angkatan bersenjata baik laki-laki mapun perempuan mempunyai kesempatan turut serta dalam mambangun ekonomi Amerika. Karena bagian dari akhir perang adalah kita dituntut untuk selalu siap bagi mereka yang telah pergi ke medan perang.

Dua pekan yang lalu, satuan tempur AS terakhir di Irak, Fourth Stryker Brigade, meninggalkan Irak menjelang matahari terbenam. Ribuan tentara dan ratusan kendaraan melakukan perjalanan dari Baghdad dan akhirnya sampai di Kuwait dini hari. Tujuh tahun lalu, tentara Amerika dan mitra koalisi nya berperang di jalur yang sama, namun kali ini tidak ada tembakan. Sebuah konvoy pasukan AS yang gagah berani pulang menuju ke rumah.

Tentu saja, masih ada tentara yang tertinggal. Beberapa dari mereka masih berusia belasan tahun ketika perang dimulai. Banyak dari mereka melaksanakan beberapa tugas yang berbeda, jauh dari keluarga yang telah melahirkan para pejuang, menahan rasa kerinduan pada dekapan suami atau kecupan ibunda. Paling menyakitkan adalah sejak perang dimulai, 55 anggota Fourth Stryker Brigade --dari 4,400 orang Amerika yang telah mempertaruhkan nyawanya di Iraq – telah gugur dan memeberikan pengorbanan yang sangat besar. Salah seorang sersan berkata,”Saya tahu. Untuk para saudaraku di ketentaraan yang berperang dan gugur, hari ini sangat berarti.”

Para prajurit Amerika ini memberikan jiwanya untuk nila-nilai yang telah bersemayam di hati rakyat kita selama lebih dari dua abad. Bersama dengan satu setengah juta rakyat Amerika yang beperang di Irak, mereka berjuang di tempat yang sangat jauh dan tidak dikenal untuk sebagian orang. Mereka memulai dengan sebuah ciptaan manusia yang paling kelam, yaitu perang, dan menolong rakyat Irak untuk meraih cahaya perdamaian.

Di dalam era tanpa upacara penyerahan ini, kita harus meraih kemenangan melalui sukses mitra kita dan kekuatan bangsa kita. Setiap rakyat Amerika yang terlibat dalam sebuah garis perjuangan yang tiada putus, dari mulai Lexington ke Gettysburg, dari Iwo Jima ke Incheon, dari Khe Sanh ke Kandahar, mereka berjuang untuk kehidupan yang lebih baik bagi anak-anak kita. Para prajurit kita bagaikan baja yang mengelilingi negara kita. Disaat bangsa kita mengarungi lautan, mereka memberikan kepercayaan bahwa perjalanan kita adalah benar, dan setelah hari gelap, akan muncul hari yang lebih baik.

Terima kasih, semoga Tuhan memberkati anda, semoga Tuhan memberkati Amerika Serikat dan semua yang melayani negara ini.


Sumber: sabili.co.id
4.9.2010

No comments: